Archive for August, 2006

Siapa Lagi Alumni ITB Berikutnya?

Tuesday, August 8th, 2006

Di sebuah business gathering IA ITB Jakarta yang saya hadiri, salah seorang teman berkata, "Sayang, tidak ada perwakilan Grup Ciputra dan Bukaka. Kalo tidak, lengkap sudah perwakilan perusahaan yang dirintis ‘didikan’ Sarwono Kusumaatmaja bisa hadir di sini." Memang, yang hadir sebagai narasumber dan mentor business gathering itu adalah: Irwan Sjarkawi (President Commissioner Bakrie & Brothers), Cyril Noerhadi (Chief Financial Officer Medco Energi), dan satu lagi dari Indonesian Power (saya lupa namanya).

Pada gathering itu, masing-masing narasumber awalnya memaparkan profil dan sejarah perusahaannya masing-masing, lalu menjadi mentor pada sesi mentoring bisnis setelah itu. Saya waktu itu ikutan di kelompoknya pak Irwan Sjarkawi. Beruntung saya bisa ikut gathering ini walaupun masih berstatus mahasiswa dan belum memiliki bisnis apapun dengan menebeng status ‘pengurus’ IA Jakarta :D

Satu hal yang saya rasakan dan masih membekas hingga saat ini. Saya sangat mengagumi karakter, gaya bicara, keluasan wawasan, dan kematangan berpikir pak Irwan Sjarkawi. Pak Irwan ini alumni elektro lho :D Dari pengalaman yang dipaparkannya, saya bisa mengerti kenapa dia memiliki karakter yang sangat kuat itu. Ternyata banyak sekali lika-liku kehidupan dan bisnis yang dilaluinya. Ibarat batu permata yang semakin indah bila telah mengalami tekanan panas di kulit bumi.

Kembali ke judul pernyataan teman saya tadi, tentang kiprah didikan Sarwono Kusumaatmaja. Ada apa dengan Sarwono?

Ternyata ketika Sarwono (yang alumni ITB)  menjabat menteri pada era Soeharto (kalo gak salah menteri bidang investasi), berkembanglah beberapa alumni  ITB menjadi entrepreneur besar Indonesia. Di antaranya adalah

- Arifin Panigoro (Medco Energi)

- Aburizal Bakrie (Bakrie & Brother)

- Ciputra (Grup Ciputra, PT Pembangunan Jaya Ancol)

- Fadel Muhammad (Bukaka) - sekarang sudah keluar dari Bukaka. Salah satu penyebabnya karena kurang cocok dengan kebijakan Keluarga Kalla sebagai investor perusahaan. 

Coba kita perhatikan, Keempat perusahaan ini adalah sebagian penggerak terbesar roda ekonomi Indonesia. Dan yang lebih hebatnya lagi, mereka memulainya dari nol (kecuali Aburizal Bakrie). Saya sudah membaca buku dan artikel-artikel Ciputra dan Fadel Muhammad, bagaimana mereka membangun perusahaannya. Sekarang saya lagi nunggu buku kisah Arifin Panigoro dengan Medconya (Goris kumaha? Cepetan pinjamin saya bukunya).

Terlepas kemungkinan ada unsur nepotisme sesama alumni ITB :D mereka adalah entrepreneur besar negeri ini yang mampu membangun dan mewujudkan visi dan mimpi mereka, menjadi sesuatu yang nyata.

Dan setelah saya amati lagi dari peta ekonomi bangsa ini, ternyata alumni-alumni ITB lah yang bermain sebagai sutradaranya. Selain keempat orang itu, masih banyak alumni-alumni yang menjadi leader-leader di BUMN besar Indonesia: Telkom, Pertamina, Bank Mandiri, dll. Kalo UI kebanyakan ‘penguasa’ aspek birokrasi dan politik Indonesia. Lulusan Fakultas Ekonominya lebih banyak jadi birokrat dan penentu kebijakan negeri ini, sedangkan alumni ITB yang jadi playmaker-nya.

Di luar itu semua, keempat orang itu sebenarnya sudah memasuki masa ‘tua’. Generasi mereka sudah hampir lewat (apalagi Ciputra yang umurnya 70an). Mereka sudah berhasil mewujudkan mimpi-mimpi besar mereka dan menyumbang sesuatu yang sangat berharga bagi negeri ini. Bayangkan kalo Indonesia tidak memiliki perusahaan-perushaan besar, bisa-bisa negara kita menjadi negara budak. Sekarang saja sudah seperti budak, apalagi kalo kita tidak punya perusahaan-perusahaan besar inovatif itu.

Nah, teman-teman, khususnya para alumni dan calon alumni ITB, bagaimana dengan kita? Akankah kita bisa mengikuti jejak mereka?

Adakah Arifin, Ciputra, dan Fadel baru yang lahir dari kampus ini?

Masih berlanjutkah sejarah kampus ini bagi bangsa kita?

Hanya kita yang bisa menjawabnya…

"Saya ingin membuat sejarah saya sendiri", begitu kata Fadel ketika memutuskan menjadi seorang entrepreneur.

Lagi-lagi ini sebuah pilihan. Coba tanya ke hati nurani dan ambisi kita untuk menjawabnya.

Kelak Kita Akan Berjuang Bersama

Sunday, August 6th, 2006

Indonesia..

Begitu bangsaku memiliki nama. Sebuah bangsa yang besar, terdiri dari beribu pulau, ratusan suku bangsa, beragam bahasa, dan berjuta ragam makhluk yang hidup di darat, laut, atau udaranya..

Bangsa yang sangat kaya… zamrud khattulistiwa dunia menyebutnya. Orang Arab pun bahkan sampai menyebutnya surga dunia. Karena keindahan alam bangsaku ini menyerupai surga yang digambarkan di Al-Qur’an..

Tapi entah kenapa.. 6 tahun belakangan ini, Tuhan membukakan mata hatiku

Bahwa bangsaku ini tidak seindah yang kubayangkan

Selama ini mungkin aku melihatnya dengan mata fisik saja, tidak dengan mata batin

Aku ibarat seperti baru bangun dari sebuah dunia impian yang sangat indah dan damai. Ibarat Neo yang baru terbebaskan dari dunia Matrix nya..

Lagi-lagi ini adalah sebuah pilihan. Anda mau bangun atau tidak. Anda mau melihat dunia ‘yang sesungguhnya’ atau tidak. Tidak ada yang memaksa. Ini adalah pilihan. Begitu morpheous menawarkannya kepada Neo

Entah aku memilih atau tidak, yang pasti sekarang aku sudah melihat. Inilah duniaku yang sesungguhnya, bangsaku yang sesungguhnya..

Banyak ketidakadilan dan pengkhianatan di dalamnya. Bahkan penindasan dan kezhaliman.

Hati ini berbisik untuk menolaknya. Untuk mengubahnya. Untuk melawannya

Sampai sejauh ini aku sudah dan lagi belajar, bagaimana untuk mengubahnya. Selama inipun aku sudah menemukan sahabat-sahabat yang memiliki suara hati seperti diriku. Sungguh indah dan luar biasanya bisa mengenal dan berjuang bersama dengan mereka.

Tapi aku sadar, saat ini bukanlah waktu yang sesungguhnya untuk kami mengubahnya. Kami sekarang hanyalah sekumpulan bocah kerdil yang baru tumbuh dan keluar dari dunia mimpinya selama ini. Kami baru memilih. Kami masih lemah, tidak punya apa-apa.

Selama ini kami hanya bisa meratapi, marah, menangis, dan berontak. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Hanya sebuah letupan suara hati dan idealisme yang meledak-meledak.

Bahkan mungkin hanya sebuah omongan, tulisan, ataupun lukisan..

Tapi sekali lagi aku sadar.. ini bukan zaman kami.

Zaman kami akan datang, suatu saat, di masa depan.

Pada saat itu kami sudah dewasa, sudah besar, sudah punya kekuataan yang nyata untuk mengubah.

Tak banyak memang yang bisa kami lakukan saat ini.

Hari ini kami hanya bisa bertekad, bahwa kami akan berbuat.

Maka belajarlah, bekerjalah, persiapkanlah masa itu

Masa ketika generasi kita yang akan diberi amanah oleh Sang Pencipta untuk menjadi sutradara zaman. Masa ketika kita sudah punya kekuatan untuk mengubahnya. Masa ketika janji itu meminta tuannya untuk menepatinya.

Mungkin saat ini kita masih belajar dan berjalan sendiri. Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan untuk meyambut masa itu.

Dan doakanlah.. agar kelak kita akan berjuang bersama

Berjuang agar semua orang bisa tersenyum bahagia

Yusuf ‘Alaihissalam

Friday, August 4th, 2006

Bismillahirrahmaanirrahim

Sudah lama tidak membuat tulisan. Dan barusan entah kenapa teringat sebuah dialog yang sangat mengesankan dengan seorang sahabat ketika i’tikaf di salman Ramadhan yang lalu. Ketika itu sudah sangat lama tidak bertemu dengannya.

Dan diskusi pun dimulai. Mulai dari menanyakan kabar masing2, membahas perkembangan dakwah kampus, hingga sampai membahas tentang kisah Nabi Yusuf Alaihissalam.

Kenapa sampai bisa membahas kisah Nabi Yusuf?

Sebenarnya sebelum saya hampiri, saat itu dia sedang membaca sebuah buku. Ternyata buku itu sebuah ulasan tentang kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf. Lebih tepatnya lagi sebuah pelajaran bagaimana mengatasi permasalahan hidup dari ibroh kehidupan nabi Yusuf.

Seperti yang kita ketahui, Yusuf adalah salah seorang nabi yang memiliki permasalahan hidup sangat kompleks sejak masa kecilnya. Dan ternyata Allah telah mentakdirkannya sebagai seorang manusia yang memiliki kisah hidup yang sangat dinamis, kompleks, dan berat. Mulai sejak dia bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya, hingga keluarganya berkumpul kembali di Mesir dan bersujud kepadanya. Di antara keduanya banyak kisah2 menarik yang bisa menjadi pelajaran hidup.

Terus terang saya sangat tertarik dengan bukunya ketika itu. Sayangnya saya sudah lupa judulnya dan sampai sekarang masih belum menemukan bukunya.

Dan memori itu muncul kembali di pikiran saya. Ketertarikan dan rasa penasaran terhadap buku itu kembali menghampiri. Tapi apa daya, diri ini tak tahu bisa mendapatkannya di mana.

Daripada tidak sama sekali, saya putuskan untuk ‘mengkaji’ sendiri dengan bantuan terjemahan surat Yusuf. Tadabbur ini hanya sebuah ‘renungan’ dari seorang Haldi, yang notabene hanyalah seorang manusia biasa yang bodoh dan penuh keterbatasan. Jadi harap maklum dengan segala kekurangannya :)

Mari kita mulai dari surat QS. Yusuf ayat 3.

"Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum ini termasuk orang yang tidak mengetahui"

Melalui ayat ini, Allah ingin menjelaskan kepada kita bahwa kisah Yusuf (yang akan dipaparkan pada ayat-ayat selanjutnya) termasuk salah satu kisah paling baik dalam sejarah ummat manusia. Sehingga diharapkan orang-orang beriman bisa mengambil pelajaran darinya. Kalo Allah saja sudah menegaskan demikian di awal surat Yusuf ini, apalagi yang meragukan kita bahwa kisah Yusuf memiliki nilai-nilai kehidupan yang sangat tinggi.

Seingat saya, kata teman saya itu, buku itu mengupas bagaimana Nabi Yusuf bersikap terhadap permasalahan dan cobaan yang dialaminya. Jadi pembahasan kita nanti lebih banyak menganalisis sikap-sikap nabi Yusuf terhadap  takdir hidupnya.

Kisah ini dimulai dari QS. Yusuf ayat 4-6:

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, "Wahai Ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Dia (ayahnya) berkata, "Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan) mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia." Dan demikianlah Tuhan memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian takwil mimpi dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."

Dari ayat di atas, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari:

1. Yusuf diberi sebuah visi masa depan oleh Allah berupa sujudnya sebelas, matahari, dan bulan. Ini adalah bekal kemampuan pertama yang dipersiapkan Allah kepada nabi-Nya. Bekal yang menandakan Yusuf seorang pemimpin masa depan. Karena seorang pemimpinbesar adalah seorang yang mempunyai pandangan (visi) yang jauh ke depan.

2. Ternyata Yusuf tidak disukai oleh saudara-saudaranya yang lain. Sehingga dalam setiap kesempatan saudaranya selalu ingin mencelakai Yusuf.

3. Yusuf menjadikan ayahnya sebagai tempat bertanya, tempat curhat, berkomunikasi, berdialog, dan meminta pendapat. Inilah kemampuan manajemen diri pertama yang diberikan Allah kepada Yusuf. Mau mengkomunikasikan permasalahan yang tidak begitu dipahaminya kepada orang yang dicintainya dan dihormatinya, ayahnya sendiri. Kemampuan ini tidak main-main. Karena bila seseorang mampu mengkomunikasikan ide & perasaannya, jiwanya akan relatif lebih tenang dan dia akan mampu membangun sebuah hubungan interpersonal yang baik dengan orang lain, terutama orang-orang terdekatnya. Ini softskill yang mutlak harus dimiliki seorang nabi dan pemimpin besar.

4. Kemampuan menguasai takwil mimpi yang diberikan Allah kepada Yusuf, bisa juga kita ibarat kemampuan bashirah yang sangat baik. Dalam pemahaman saya bashirah itu analisis yang jernih dan mendalam, yang dibangun dari kejernihan pikiran dan hati. Ini juga kemampuan mutlak yang harus dimiliki seorang pemimpin besar.

5. Di akhir ayat Allah memberitahukan bahwa kenabian dan kelebihan yang dimiliki Yusuf adalah nikmat Allah yang harus senantiasa disyukuri. Ini untuk membentuk karakter mental kejiwaan seorang Yusuf. Bahwa seorang Nabi harus senantiasa bersyukur Kepada Allah. Penegasan bahwa Tuhanmu Maha Mengetahui, Maha Bijaksana adalah penekanan Allah agar senantiasa tawadhu, zikir dan tafakkur akan kemaha bijaksanaan Allah. Sehingga lengkaplah sudah penyiapan karakter seorang Yusuf: visioner, komunikatif, memiliki bashirah yang kuat, dan ruhiyah yang senantiasa bersyukur, tawadhu, zikir kepada Allah.

Petualangan I (Dimasukkan ke Sumur)

"Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, "Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari." (QS Yusuf:15)

Cobaan ini adalah petualangan pertama yang diskenariokan Allah kepada Yusuf, untuk membentuk kematangan karakter dirinya. Di sini Allah memberkan bashirah lagi kepada Yusuf bahwa dia kelak akan menceritakan peristiwa ini kembali kepada saudaranya.

Di sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa ketika menghadapi sebuah permasalahan dan ujian hidup, kita harus mampu memandang jauh ke depan. Sehingga kita mampu merumuskan langkah-langkah solutif dengan penuh kesabaran dan optimis. Inilah karakter yang harus dimiliki oleh orang-orang beriman.

Coba bayangkan, bagaimana kalo seandainya kita dimasukkan ke sumur berhari-hari. Bisa stress dan gila kali ya :). Jadi ingat film The Ring. Hantu Shodakko kan muncul gara-gara dimasukin ke sumur sama orang tuannya :D.

Nah, di sinilah mungkin salah satu ibroh skenario Allah dengan menguji Yusuf masuk ke sumur. Untuk membentuk mental yang kuat, matang, mandiri, dewasa, sabar, dan optimis. Kekuatan dan kedewasaan mental yang akan menjadi modal bagi petualangan Yusuf berikutnya.

Mungkin skenario Allah dengan "memasukkan" saya ke ITB selama bertahun-tahun sama ibrohnya dengan dimasukkannya Yusuf ke sumur tersebut ya. Semoga :D

Petualangan II (Menjadi Budak Dagangan)

"Dan datanglah sekelompok musafir, mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata. "Oh, senangnya, ini ada seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya." (QS. Yusuf: 19-20)

Petualangan Yusuf berikutnya adalah dijadikan dagangan budak. Seorang Yusuf yang awalnya berasal dari keluarga terhormat (keluarga Ya’qub) saat ini didagangkan sebagai budak di pasar dengan harga yang murah.

Kira2 apa ibroh dari skenario Allah ini? Ini adalah suatu pembelajaran hidup untuk membentuk mental rendah hati. Bahwa Yusuf tidak beda denga manusia lain, bahkan mungkin lebih rendah martabatnya di sisi manusia lain. Karakter rendah hati dan merasa diri sebagai ‘wong cilik’ ini juga sangat penting bagi seorang calon pemimpin besar. Agar kelak dia selalu berpihak dengan adil kepada rakyatnya dan membela hak-hak ‘wong cilik’. Yusuf berhasil melewati tempaan mental ini karena sebelumnya sudah ditempa ketika di dalam subur. Jadi ibaratnya, takdir menjadi budak yang murah ini sebagai pelengkap tarbiyah mental dari Allah kepada Yusuf. Bahwa kita harus senantiasa membumi, memanusia, merakyat, dan rendah hati, dengan tetap menjaga izzah dan harga diri.

Petualangan III (Menjadi Anak Angkat Pembesar Mesir)

"Dan orang dari Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya, "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak." dan Demikianlah kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi. Dan Allah  berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti. Dan ketika dia telah tumbuh cukup dewasa kami berikan kepadanya kekuasaan dan ilmu. Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 21-22)

Setelah ujian penggemblengan mental, Allah kemudian mentakdirkan Yusuf untuk mengalami mobilitas vertikal dalam kehidupannya. Yusuf menjadi anak angkat seorang pembesar Mesir. Ketika masuk ke keluarga pembesar ini, karakter kedewasaan, kemandirian, kesabaran, dan tawadhu’ Yusuf sudah terbangun. Sehingga naiknya status sosialnya menjadi anggota keluarga pembesar Mesir tidak akan membuatnya besar kepala dan disorientasi. Tapi sebagai sebuah peluang untuk menjadi pembesar Mesir.

Ibroh yang coba saya ambil:

1. Pentingnya kekuatan mental, karakter, dan akhlak sebellum kita melakukan mobilitas vertikal sosial dalam kehidupan masyarakat

2. Kita harus mampu menjalin hubungan komunikasi dan silaturrahim dengan para tokoh, pembesar, dan penguasa yang adil dan bujaksana untuk memperbesar peluang kontribusi sosial kita. Kedekatan kita kepada tokoh/penguasa memperbesar kemungkinan kita untuk menjadi seorang pemimpin pula di masa depan. Bukankah seorang teman dan lingkungan pergaulan akan berpengaruh terhadap kepribadian dan karakter kita kelak? Karena itu, untuk pemimpin yang zhalim, kita harus senantiasa beramar ma’ruf nahi mungkar kepadanya.

3. "Dan Allah  berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti". Ini adalah statement dari Allah akan kemaha besaran kekuasan-Nya terhadap takdir dan urusan hidup manusia. dan seringkali manusia tidak pernah memahami dan mengambil ibroh darinya. Allah ingin menegaskan bahwa seluruh skenario kehidupan manusia pasti mengandung kebaikan dan pembelajaran di dalamnya. Tinggal manusia yang harus berusaha untuk menemukannya dan mengambil pelajaran darinya. Apabila manusia mampu mengambil hikmah dan pelajaran hidup darinya, niscaya mereka akan menjadi seorang pribadi yang unggul.

4. Bagi orang-orang yang sabar dan senantiasa berbuat baik, pasti Allah akan memberikan kekuasaan dan ilmu kepadanya. Jadi senantiasa bersabarlah atas segala ujian kehidupan yang Allah berikan kepada kita, ambil pelajaran darinya, senantiasa berbuat baik, dan bertakwalah kepada Allah. Karena Allah tidak akan pernah menyalahi janjinya untuk memberikan kekuasaan dan ilmu kepada orang-orang yang berbuat baik.

Petualangan IV (Godaan Wanita Bangsawan)

"Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, "Marilah mendekat kepadaku." Yusuf berkata, "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. "Sesungguhnya orang yang zhalim itu tidak akan beruntung. Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). dan Yusuf pun berkendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. Demikianlah, Kami  palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba kami yang terpilih. Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan) itu berkata, "Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih? Dia (Yusuf) berkata, "dia yang menggodakau dan merayu diriku." Seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberi kesaksian, "Jika baju gamisnya koyak di bagian depan, maka perempuan itu benar, dan dia (Yusuf) termasuk orangyang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di bagian depan,maka perempuan itulah yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang benar. Maka ketika dia (suami permepuan itu) melihat baju gamisnya (Yusuf) koyak di bagian belakang, dia berkata (kepada isterinya), "Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu. Tipu dayamu benar-benar hebat. Wahai Yusuf! lupakanlah ini ini, da (istriku) mohonlah ampunan atas dosamu, karena engkau termasuk orang yang bersalah." (Qs, Yusuf: 23-29)

Ini adalah cobaan berikut yang sangat berat, terutama untuk kaum pria: Godaan dan rayuan wanita bangsawan!

Melalui kisah ini Allah ingin memberikan pembelajaran kepada kita:

1. Seorang Yusuf yang memiliki wajah paling tampan dan dirayu oleh seorang wanita cantik bangsawan ternyata tidak tergoda untuk mengikuti hawa nafsunya. Dan dia mampu melawannya. Ketampanan wajah Yusuf tidak menjadikannya sebagai pengobral wajah dan penggoda wanita. Hal inilah yang harus diteladani oleh generasi muda sekarang. Banyak pemuda-pemudi yang dikaruniai Allah wajah yang tampan dan cantik, ternyata malah terjerumu kepada kehidupan riya, jual wajah, jual tubuh, dan obral hawa nafsu. Ternyata wajah yang tampan dancantik itu malah menjadi kerugian bagi mereka, karena menyebabkan mereka terjerumus kepada kehidupan dan gaa hidup hedonisme dan materialisme. Banyak orang yang terjebak dan tertipu dengan ketampanan dan kecantikan wajahnya, sehingga mengakibatkan butanya mata hatinya akan agama Allah dan kehidupan akhirat.

2. Seorang Yusuf saja, manusia paling tampan yang diciptakan Allah, mampu menjaga nafsunya, akhlaknya, kehormatannya, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah, Rabbnya. Bagaimana dengan kita yang baru diberi ketampanan/kecantikan sedikit saja sudahterjerumus ke dalam godaan hawa nafsu dan kehidupan materialisme?

3. Yusuf diciptakan Allah sebagai role-model bagi manusia, bahwa manusia yang paling tampan di dunia dan yang pernah mendapat godaan dari wanita bangsawan saja mampu mengendalikan hawa nafsunya, rendah hati dan bertakwa kepada Allah. Sehingga tidak ada lagi alasan kepada orang-orang yang baru tampan/cantik sedikit saja untuk sombong, mengumbar nafsu, riya, dan bermaksiat kepada Allah. Na’udzubillah min dzaalik..

4. Yusuf senantiasa kembali, tunduk patuh, dan berserah diri kepada Allah dalam situasi dan kondisi apapun. Ini menunujukkan kekuatan ruhiyah, iman, dan mental yang sangat kokoh.

5. Hadits Rasulullah menyebutkan bahwa salah satu kriteria orang yang mendapat perlindungan di akhirat kelak ialah seseorang sesorang yang mampu menolak ajakan zina dari seorang wanita bangsawan.

Petualangan V (Memilih Untuk Masuk Penjara)

"Yusuf berkata, "Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka., niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka dan tentu aku termasuk orang yang bodoh. MakaTuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah yang Maha Mendengar Maha Mengetahui. Kemudian timbul di pikiran mereka setelah melihat tanda-tanda bahwa mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu." (QS. 33-35)

Ini adalah petualangan Yusuf berikutnya, masuk ke dalam penjara. Masuknya Yusuf ke penjara ini bukan karena kasus pertama, tetapi setelah Yusuf diperlihatkan ke wanita-wanita Mesir sampai mereka tanpa sadar melukai tangannya sendiri ketika melihat Yusuf (bisa dilhat di ayat 31-32).

Ibroh:

1. Yusuf lebih memilih untuk dipenjara daripada mengikuti kemauan wanita-wanita Mesir. Sebuah keputusan yang didasarkan kamatangan mental yang luar biasa, karena ketakutannya kepada Allah

2. Yusuf benar-benar terhindar dari nafsu duniawai.

3. Yusuf memiki bashirah, bahwa penjara adalah tempatnya yang terbaik dengan kondisi saat itu.

Petualangan VI (Menakwilkan Mimpi dan Berdakawah di Penjara)

QS. Yusuf: 36-50 (panjang euy ayatnya, diliat sendiri aja ya :) )

Ibroh:

1. Yusuf selalu berdakwah ilallah di manapun ia berada. Bahkan di dalam penjara.

2. Yusuf menggunakan kemampuan takwil mimpinya dalam strategi . Karena kedua orang teman penjaranya itu memang membutuhkan penjelasan akan mimpi yang mereka alami. Ini memberikan pelajaran kepada kita, bahwa dakwah itu harus sesuai dengan karakter, bahasa, dan kebutuhan mad’u. Sebelum berdakwah, kita harus melayani terlebih dahulu mad’u kita akan kebutuhan mereka.

3. Pentingnya Networking! Yusuf bisa bebas dari penjara karena rekomendasi salah satu temannya itu kepada raja, bahwa Yusuf orang yang bisa mentakwilkan mimpi dan sangat dipercaya. Networking ini suatu keharusan dalam hidup: berdakwah, berbisnis, bermasyarakat, berpolitik, dll. Inilah prasyarat berikutnya bagi seorang calon pemimpin besar: Komunikasi dan Networking!

Petualangan  VII (Takwil Mimpi Raja)

"Dia (Yusuf) berkata, agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kau tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang sangat sulit, yang menghabiskan aa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa(bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang ythun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur)." (QS. Yusuf: 47-49)

Ibroh:

1. Yusuf dengan pembelajaran yang dialaminya sebelumnya, telah memberikan sebuah analisis dan saran yang sangat tepat kepada raja (penguasa). Seorang pemimpin harus bisa berindak dan bersikap dengan visi yang jauh ke depan dan analisis kondisi yang akurat. Sehingga keputusan dan kebijakannya tepat sasaran. Kecerdasan dan kemampuan inilah yang harus dimiliki setiap orang yang bercita-cita untuk menjadi pemimpin!

2. Saran yang diberikan Yusuf melingkupi pertimbangan kesejahteraan seluruh rakyat Mesir. Bukan hanya raja atau kerajaan saja. Inilah karakter negarawan yang sudah terbagun di diri Yusuf. Karakter yang tertempa sejak ia dimasukkan ke sumur dan menjadi budak dagangan.

Petualangan VIII (Menawaran Diri Untuk Menjadi Bendahara Negara)

"Dan Raja berkata, "Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku." Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (raja) berkata, "Sesungguhnya amu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya. Dia (Yusuf) berkata, "Jadikanlah aku bendaharawan negeri Mesir; karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan." Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir), untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang kami kehendaki dan kai tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Dan sungguh, pahala akhirat itu lebih baik bai orang-orang yang beriman dan bertakwa. (QS. Yusuf: 54-56)

Ibroh:

1. Untuk bisa menjadi pemimpin, kita harus memiliki prestasi dulu sebelumnya, prestasi kontributif bagi orang lain.

2. Networking dan kepercayaan dari orang lain (penguasa) menjadi jalan bagi kita untuk bisa menjadi pemimpin bagi masyarakat.

3. Sikap proaktif dan kepercayaan diri yang tinggi adalah sikap yang sangat dibutuhkan bagi setiap (calon) pemimpin negeri ini. Orang-orang yang memang memiliki kemampuan/kompetensi diri yang tinggi dan amanah harus bisa proaktif untuk menjadi pemimpin tanpa harus haus kekuasaan. Proatif berbeda dengan haus kekuasaan. Karena proaktif itu berjiwa kontribusi dan pengorbanan, bukan nafsu kekuasaan.

Petualangan IX (Kedatangan Saudaranya dari Mesir)

QS. Yusuf: 59-88

Ayat tersebut mengisahkan ketika saudara2 Yusuf (yang dulu memasukkannya ke sumur) datang ke Mesir untuk mencari bantuan pangan. Di sinilah Yusuf bersikap dewasa, arif, sekaligus cerdik dengan membuat skenario agar saudara laki-lakinya yang lain (Bunyamin) dan kedua orang tuanya bisa datang ke Mesir. Yusuf mampu mengendalikan emsinya dan tetap berpikir jernih sehingga ia bisa membuat skenario kedatangan saudara laki-lakinya dan kedua orang tuanya tersebut.

Petualangan X (Berkumpulnya kembali seluruh keluarga Yusuf)

"Dia (Yusuf) berkata, "Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara penyayang." (QS. Yusuf: 92)

"Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke singgasana. Dan mereka semua (saudara-saudaranya) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, "Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku. Ketika dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh Tuhanku maha lembut terhadap apa yang dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui" (QS. Yusuf: 100)

Betapa luar biasanya kebesaran jiwa seorang Yusuf…

……

Demikianlah sebagian kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf Alaihissalam. Sebuah kisah yang sangat komlpleks dan mengandung ibroh terhada semua pembelajaran kehidupan manusia. Mulai dari sabar aka cobaan, mengambil hikmah, yakin akan pertolongan Allah, rendah hati, mampu menahan godaan hawan nafsu wanita, ketakutan kepada Allah, kemampuan bashirah, visi, dan analisis yang luar biasa, karakter kenegarawan, dan sikap berlapang dada dan memaafkan.

Sesungguhnya Allah telah membuat skenario kehidupan para nabi untuk menjadi pelajaran bagi ummat manusia.

Dan kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf beserta contoh sikap dan karakter beliau sangat mirip dengan kehidupan  kita sekarang (terutama saya). Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari kisah perjalanan hidup yang luar biasa ini. Insya Allah…

Wallahu a’lam bishshawab

Oh iya, teman saya itu namanya Teguh Prasetya FT 98 :)