Archive for February, 2006

Release!

Friday, February 24th, 2006

Di dalam agama ada konsep Taubat. Taubat adalah suatu kondisi kejiwaan di mana seorang memahami bahwa dia melakukan kesalahan, menyadarinya, menyesalinya, dan bertekad untuk berubah dan tidak mengulanginya.

Selama ini saya mencoba mempelajari dalam berbagai macam literatur, seperti apa taubat itu sebenarnya; konsepnya, metodenya dan caranya. Banyak penjelasan-penjelasan yang saya dapat, tapi sepertinya masih terlalu mengambang, atau mungkin tidak cocok dengan karakter diri saya yang lebih cenderung bergerak dengan landasan ilmiah baik secara konsep, metodologis, atau implementasinya.

Nah, baru-baru ini saya mendapat pelatihan tentang konsep Release Diri. Ketika pertama kali diajarkan  tentang metode Release ini, saya langsung teringat film The Matrix Reload. Bagaimana Neo berubah menjadi The One. Bagaimana Agent Smith bisa menjadi virus bebas di dunia Matrix. Bagaimana The MAtrix selalu berubah menjadi release terbaru, dengan datangnya The One dalam setiap release sebelumnya. Film ini benar2 mengambil filosofi agama dan kenabian. Bahwa The One adalah seorang nabi/messiah yang bisa membawa perubahan bagi dunia..

Kembali ke masalah Release, metode ini ternyata digali dari ilmu psikologi manusia. Sama halnya dengan ilmu hipnotis. Dasar-dasar pemikiran dalam konsep Release ini antara lain:

- manusia adalah makhluk yang unik, yang diberi anugerah freedom of choice, kebebasan untuk memilih dan menentukan nasibnya sendiri.

- manusia terdiri dari unsur ruh, jiwa, jasad, dan pikiran

- dalam kehidupan sehari2, jiwa dan pikiran seseorang dipengaruhi oleh lingkungan dan informasi di sekitarnya.

Konsep Release ini benar2 dibentuk dari dasar-dasar psikologi. Dan konsep utamanya ialah dengan menggunakan teknik Sugesti.

Tahukah anda, bahwa apa yang anda pikirkan/imajinasikan itulah yang bakal menjadi kenyataan sesungguhnya di dunia? Di dalam Islam dijelaskan bahwa Allah berbuat sesuai dengan apa yang dipikirkan/dibayangkan hambaNya. Inilah salah satu akar pemahaman dari freedom of choice itu. Jadi mau seperti apa kita, itu semua tergantung dari apa yang kita pikirkan, kita pilih dan kita niatkan. Just simple!

Nah mengenai Release, ini semua tergantung dari kehendak kita sendiri. Kita mau tidak me-release diri kita? Sama seperti halnya bila kamar kita sedang berserak (kacau), pilihannya ada pada diri kita, ingin me-release kamar kita sehingga berubah menjadi rapi, atau membiarkannya tetap berserak?

JAdi tahap awal dari metode Release ini ialah bagaimana kita menjadikan diri kita menjadi pemimpin dari diri kita sendiri. Coba ambil kendari diri kita oleh kita sendiri. Salah satu tekniknya coba sering2 ngobrol dengan diri sendiri di depan cermin. Ceramahin diri anda, omelin, marahin, nasihatin, seperti hanlnya anda sedang berkomunikasi dengan bawahan Anda. Cobalah jadi pemimpin bagi diri Anda sendiri.

Setelah Anda bisa mengambil jarak dan menjadi pemimpin bagi diri Anda sendiri. Sekarang baru masuk ke tahap release.

Inti dari release ini adalah bagaimana kita mensugesti diri kita sendiri, atau menghipnotis diri, atau memprogram ulang diri kita. Tekniknya mengambil dasar ilmu sugesti dan hipnotis. Bagi Anda yang pernah menonton reality show tentang hipnotis, kita pasti heran, kenapa seseorang bisa dikendalikan oleh orang lain. Nah metode release ialah bagaimana kita bisa mengendalikan diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa memimpin diri kita. Kita adalah pemimpin bagi diri kita.

Gambaran ringkasnya, dengan teknik ini kita mencoba untuk memprogram ulang (release) diri kita menjadi diri yang kita harapkan. Misalnya, bila selama ini ada sifat atau karakter buruk pada diri kita, coba kita release kemabli agar karakter buruk itu hilang, dengan cara mensugesti atau menghipnotis diri kita sendiri. Ada beberapa tekniknya, bisa dengan teknik sugesti balon gas, atau sugesti membakar kertas.

Dan secara psikologi, jiwa manusia memang bisa diubah dan dikendalikan. Ibaratnya sebuah tanah liat yang yang siap dibentuk oleh seorang seniman menjadi keramik yang sangat indah. Begitu juga dengan teknik release ini. Bayangkan anda adalah seniman itu, anda adalah pemimpin bagi diri anda, dan jiwa anda (alam bawah sadar anda) adalah tanah liat yang siap untuk anda bentuk dan ubah (release)

Hal-hal di atas adalah gambaran umumnya. Ada teknik2 khusus (SOP) nya yang harud dilakukan untuk melakukan Release Diri ini. Seperti harus diawali dengan stretching, deep breathing, dll.

Intinya, bahwa konsep Release ini adalah salah satu metode ilmiah Taubat yang selam ini coba saya cari2. Inilah metode ilmiahnya, yang digali dari ilmu psikologi dan kejiwaan manusia. Sejarah pernah menceritakan bagaimana orang bisa berubah, dengan datangnya hidayah. Seperti berubahnya Umar Bin Khattab, berubahnya Khalid Bin Walid, Sidharta Gautama, Umar Bin Abdul Aziz, Yusuf Islam, dll. Secara ilmiah, perubahan itu terjadi dalam jiwa alam sadar mereka,m bermula dari pikiran, kemudian pikiran mensugesti alam bawah sadar, dan turun ke hati (qolbu). Inilah yang namanya hidayah. Saya sampai saat ini sangat yakin bahwa ilmu Allah itu semua bisa diilmiahkan, terutama tentang hidayah ini.

Nah melalui tulisan ini, saya hanya ingin berbagi. Bahwa teknik Release ini adalah salah satu teknik alternatif bagi kita yang ingin merubah dan memperbaiki diri, bertaubat. Coba Release diri kita menjadi pribadi yang kita inginkan, pribadi yang lebih baik, tenang, shalih, berguna dan mencintai umat manusia, serta taat dan bertakwa kepada Sang Pencipta.

Bagi yang tertarik, bisa menghubungi saya via email: haldi_kudo@yahoo.com. Karena teknik2 mendetailnya tidak bisa saya tuliskan di sini. Karena terlalu banyak dan takut bias&terdistrosi kalo hanya melalui tulisan. Harus disampaikan langsung.

Semoga metode ini berguna bagi diri kita yang terpanggil untuk merubah dan memperbaiki diri.

Let’s change! Release ourself!

Wallahu Alam..

Karena Cinta

Thursday, February 23rd, 2006

“.. for people who like helping people..”

Karena Cinta

Karena Cinta”, istilah ini pertama kali terkenal ketika dinyanyikan oleh Joy di Indonesian Idol. Terlepas dari konotasinya yang agak “merah jambu”, aku ingin memandangnya dari sisi lain..

Dear Haldi.. my soul..

Beberapa lama ini aku mengalami beberapa persoalan yang sangat menyita pikiran dan emosi. Bisa juga dibilang juga masalah. Persoalan ini timbul karena sedikit banyak menguncang eksistensi dan kemapanan sikap dan pemahaman yang sudah kuyakini selama ini. Tapi itulah namanya kehidupan, setiap orang memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda, sehingga berbeda pula sikap dan paradigmanya..

Untuk beberapa lama aku sempat tidak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi. Pikiranku seakan tidak bisa memahaminya, bahkan kamu sendiri juga begitu, jiwaku.. Semakin mencoba untuk memahami, semakin jauh rasanya diri ini dari orang lain.

Tapi sekarang aku ingin mencoba metode jurus “tubuh halus”nya shiro, mencoba membaca energi orang lain, mengenalnya, memahaminya, sehingga bisa mengendalikannya dan mengalahkannya. Sebuah jurus yang secara batas kewajaran “ilmu kung fu” tidak akan mampu dikalahkan, kecuali oleh orang-orang yang sudah mampu melepaskan ketergantungan jiwanya dari jasadnya, dari materi dunia. Orang2 yang juga mempunyai kendali yang tinggi terhadap energi diri jiwanya.. yang sudah tidak takut kehilangan jasadnya.. tidak takut mati..

Kalo bahasa ilmu ESQ nya : empati J

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, begitu kata guruku ketika SD, SMP, dan SMA dulu. Makhluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Ketika itu (dan sampai kini) aku mencoba memahaminya dari sudur pandang lain: bahwa manusia membutuhkan manusia/pihak lain untuk hidup, untuk mengisi energi jiwanya.

Dan beberapa hari belakangan ini.. aku menemukan persoalan yang berhubungan dengan manusia itu semuanya. Bila coba disederhanakan dan disimpulkan, seluruh persoalan itu terkait dengan suatu keadaan ketika seorang manusia diharapkan bisa berbagi dengan manusia lain, atau pihak lain. Dan aku menghadapi banyak penyikapan reaktif terhadap itu semua

… Beberapa orang bertanya dalam dirinya..

kenapa aku harus berbagi?

kenapa aku harus memberi?

kenapa aku harus percaya?

kenapa aku harus menerima?

kenapa aku harus berbuat?

kenapa aku harus membantu?

kenapa aku harus menolong?

kenapa aku harus susah?

kenapa aku harus kehilangan?

kenapa aku harus berkorban?

Kira-kira itulah pertanyaan-pertanyaan, yang coba kubaca, yang timbul dari manusia-manusia di sekelilingku..

Aku coba merenunginya kembali.. mencoba memahami dan merasakannya.. mencoba menemukan jawabannya..

Tetapi ketika kucoba menemukannya dengan akal pikiran di otakku, rasanya semakin sakit saja rasanya kepala ini. Mungkin ukuran pertanyaan-pertanyaan itu terlalu besar dengan kapasitas memory & processor otakku.. Sehingga membuatnya nge-hang, karena sudah kehabisan ruang. Bit-bit pertanyaan itu seakan sudah tidak dapat tertampung lagi, sehingga sulit untuk mengolahnya..

Ketika kepala ini semakin sakit

kucoba mengalihkannya ke hati.. tempat bersarangnya jiwaku, ya kamu Haldi..

Aku tidak mau lagi mengolahnya dengan Arithmatic Logic Unit di otakku

Karena memang pertanyaan itu di luar nalar bila coba kucoba menjawabnya dengan otak

Dan mulailah aku mencoba menemukannya dengan hati..

Suatu ketika aku membaca sebuah email dari milis angkatanku

yang berisi pendapat cendikiawan-cendikiawan barat tentang Muhammad

Sebuah email yang dibuat untuk membungkam kartunis-kartunis barat yang bodoh dan dengki itu..

Berikut beberapa kutipan pendapat dari cendikiawan-cendikiawan dunia tersebut tentang Muhammad:

"Sejumlah besar sumber awal menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang

jujur dan berbudi baik yang dihormati dan ditaati orang-orang yang sepertinya (jujur dan berbudi baik) (Vol. 12)"

ENCYCLOPEDIA BRITANNICA

Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi

manusia… Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan

kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan,

kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada

teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada

Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala

halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad),

saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.

MAHATMA GANDHI (Komentar mengenai karakter Muhammad di YOUNG

INDIA

)

Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin

mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik

dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan

terkemuka menyatakan bahwa: Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas

yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang

dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad?

Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah

menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri.

Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan

dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih

dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan,

agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa… Kesabarannya dalam kemenangan dan

ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat

membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan,

kematiannnya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya;

semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk

mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban

(immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia

singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan

tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filsuf yang juga seorang

orator, apostle (hawariyyun, 12 orang pengikut Yesus-pen.), prajurit, ahli hukum, penakluk

ide, pegembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad.

Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?"

MICHAEL H. HART (THE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTIAL PERSONS IN
HISTORY, New York, 1978)

Itulah pendapat-pendapat tentang Muhammad. Aku mencoba meresapinya.. Apa sebenarnya kekuatan inti dan kebesaran seorang Muhammad?

Setelah itu aku mencoba menyelami pribadi manusia-manusia lain.. ada tokoh, pemimpin, pahlawan, bahkan teman-teman yang kukagumi..

Ada

juga beberapa tokoh dan pahlawan fiktif yang selama ini cukup kukagumi..

Apa kira-kira yang menggerakkan kehidupan mereka?

Apa yang menyebabkan mereka memiliki energi yang begitu melimpah? ..dan begitu murni..?

Dan sesaat kemudian terlintas dalam benakku potongan-potongan memori masa kecilku

Kehidupanku dengan ayah ibuku, bibiku, pamanku, kakek nenekku.. beberapa dari mereka sudah meninggal sekarang..

Aku mencoba menemukan kesamaan dari mereka semua..

Dan ketika tanpa sengaja mendengar lagu ini, akhirnya aku menemukan jawabannya: Karena Cinta…

Yah.. itulah jawabannya wahai jiwaku..

Itulah jawaban pertanyaan-pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalamu itu

Dan yang tidak bisa kau pecahkan dengan otakmu

Coba tanya ke hatimu..

Jawabannya memang hanya Karena Cinta..

Kepada sahabat-sahabatku yang sedang berada dalam kegamangan

Kepada teman-temanku yang sedang berada dalam keraguan

Kepada mereka yang sedang bertanya-tanya:

kenapa aku harus berbagi?

kenapa aku harus memberi?

kenapa aku harus percaya?

kenapa aku harus menerima?

kenapa aku harus berbuat?

kenapa aku harus membantu?

kenapa aku harus menolong?

kenapa aku harus susah?

kenapa aku harus kehilangan?

kenapa aku harus berkorban?

Aku hanya bisa memberi jawaban: Karena Cinta

Bagiku hanya Karena Cinta pertanyaan-pertanyaan itu bisa kujawab

Tak peduli apapun, siapapu, bagaimanapun.. hanya Karena Cinta..

Karena cintaku yang sebesar-besarnya kepada Tuhanku dan nabiku

Karena cintaku kepada agamaku

Karena cintaku kepada ayah ibukuku

Karena cintaku kepada bangsaku      

Karena cintaku kepada tanah airku

Karena cintaku kepada rakyatku

Karena cintaku kepada saudara-saudaraku

Karena cintaku kepada sahabat-sahabatku

Karena cintaku kepada teman-temanku

Dan karena inginnya kumelihat senyum kebahagiaan mereka semua..

Karena itulah aku mau berbagi

aku mau memberi

aku mau percaya

aku mau menerima

aku mau berbuat

aku mau membantu

aku mau menolong

aku mau susah

aku mau kehilangan

aku mau berkorban

hanya karena cinta

hanya karena ingin melihat dan menerima senyum kebahagaiaan dan kerihoan mereka

kalau sudah hanya karena cinta

apalagi di dunia ini yang dapat menggantkannya.. ?

Dan hanya cintalah yang bisa mengobarkan energi yang begitu dahsyat, murni, dan tulus..

Tiada lagi yang bisa..

Dan bila suatu saat nanti aku ditanya, atau juga ketika diriku bertanya, “kenapa aku melakukannya?”

Aku hanya akan menjawab: karena cinta..  untuk Tuhanku, nabiku, agamaku, orang tuaku, bangsaku, saudaraku, sahabatku, temanku..

Dan itu semua sudah cukup, tidak kurang, tidak lebih.. tidak peduli apapun dan bagaimanapun selainnya..

Itulah aku..

Dan kamu.. bagaimana dengan kamu?

my room, thursday, 23 february, 11:30 am..

Alkisah

Thursday, February 23rd, 2006

Alkisah, pada suatu ketika ada seseorang lelaki tua bijaksana yang tinggal di puncak gunung (tidak kutahu mengapa tetapi memang menjadi lazimnya bahwa seorang lelaki tua yang bijaksana semestinya tinggal di puncak gunung). Setiapkali penduduk kampung mempunyai masalah, mereka akan mendaki gunung dan meminta nasihat orang tua tersebut.

Suatu hari seorang pemuda cukup sukses ukuran waktu itu- memutuskan untuk mendaki gunung dan bertanya kepada orang tua.

“Wahai Bapak yang bijaksana”, tanya pemuda itu, “Apakah yang membuat seseorang itu benar-benar unggul?”

Si orang tua merenung seketika, lalu menjawab, “Apakah kamu benar-benar ingn tahu?” “Ya, ya, “ jawab si pemuda.

“Baiklah,” kata si orang tua, “Aku akan beritahu kamu melalui sebuah cerita.”

“Pada suatu masa ada seorang berbangsa Yunani mengidap penyakit yang membawa maut. Karena mengetahui bahwa dirinya tidak lama lagi akan mati, beliau menjadi orang pertama yang menyertai tentara apabila negaranya berperang dengan musuh. Dengan harapan agar mati di medan perang, beliau lalu berjuang, maju di barisan terdepan, tanpa memperhatikan nyawanya. Akhirnya, perang usai dan dimenangkan negaranya, beliau masih juga hidup! Panglimanya begitu kagum dengan keberanian beliau yang telah memberi sumbangan besar terhadap kemenangan mereka, dan memutuskan untuk menaikkan pangkat beliau serta menganugerahkan lencana maupun piagam keberanian dan kehormatan. Di hari penganugerahan, beliau kelihatan murung dan sedih. Karena keheranan, si panglima bertanya kepada beliau, “Apa yang menyebabkan kamu bersedih?” Beliau menjawab, “Aku mengidap penyakit yang mematikan”. Bagaimana Mungkin Dia Membiarkan Seorang Pahlawan Seberani Itu Mati Begitu Saja? Lalu si panglima mencari tabib terbaik untuk mengobati sehingga akhirnya beliau sembuh. Namun demikian, sejak saat itu, si pahlawan yang dahulunya begitu berani tidak lagi berada di barisan depan! Beliau senantiasa menjauhkan dirinya dari bahaya, berusaha melindungi nyawanya dan tidak lagi mempertaruhkannya seperti dahulu!”

“Orang muda, jika kamu ingin benar-benar unggul, kamu hendaknya jangan takut mati, tidak Kia Su (takut kalah), dan berani gagal!”

“Jangan takut hidupmu akan berakhir, tetapi takutilah bahwa ia tidak akan bermula.”

-John Henry Newman-